Hari itu, desa ramai dengan pemilihan ketua. Warga berduyun-duyun ke balai desa, berharap pemimpin baru yang lebih baik.
Di sudut jalan, Dewi berdiri diam, mengamati kerumunan. Sejak kecil, ia selalu di sisi Anton. Ibunya dulu pembantu keluarga Anton—satu-satunya orang yang ia punya sebelum meninggal.
Namun, hatinya kini terasa berat. Kabar pernikahan Anton dengan Gita telah menyebar. Perempuan kota itu bukan yang Anton cintai, tapi ia tetap menikahinya. Dewi tahu alasannya. Anton dikendalikan.
Priska, sahabat Dewi, punya kepekaan lebih. Ia bisa merasakan hal-hal tak kasat mata. Saat melihat Anton, ia tahu ada sesuatu yang menjeratnya—gelap dan kuat.
Ia merasakan aura hitam di sekitar Anton. Diam-diam, ia mengambil sebotol air yang sudah didoakan dari tasnya dan menyelipkannya ke tangan Dewi.
"Berikan ini padanya," bisiknya.
Senja turun saat Anton dan Dewi berjalan pulang. Jalanan desa masih becek setelah hujan, hanya terdengar gesekan dedaunan tertiup angin.
Dewi ragu-ragu menggenggam botol itu. Setelah menarik napas, ia akhirnya menyodorkannya.
"Ini untukmu, Anton. Airnya segar," katanya pelan.
Anton menatapnya sejenak sebelum menerimanya tanpa banyak bicara. "Terima kasih, Dewi." Dewi mengangguk.
Anton meneguk air itu. Dingin. Segar. Tapi begitu melewati tenggorokannya, ada sesuatu yang lain—sebuah sensasi aneh yang menjalar perlahan di dalam tubuhnya.
Malam itu, tidurnya gelisah.
Dalam mimpi, ia berdiri di rumahnya, tapi semuanya tampak suram, diselimuti kabut tipis. Di seberang ruangan, Gita berdiri dengan wajah muram dan mata sembab.
“Anton…” suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam keheningan.
Ia ingin mendekat dan bertanya, tapi kakinya terpaku. Saat mencoba meraih wajah Gita, sesuatu menahan pergelangannya.
Dari balik bayangan, tangan lain menggenggamnya erat. Hangat. Akrab.
Dewi. Ia tersenyum, tapi bukan senyum lembut seperti biasa—lebih seperti senyum yang menguasai.
"Jangan pergi," bisiknya. "Kau milikku sekarang."
Sekilas, ia melihat Gita mundur. Air matanya jatuh perlahan. Anton ingin memanggilnya, ingin mengulurkan tangan… tapi tubuhnya tak bisa bergerak.
Anton terbangun. Dadanya sesak, napas tersengal. Saat itu juga, sesuatu mencengkeram pikirannya.
Kenapa rasanya ada yang hilang?
Dari luar kamar, Dewi mengetuk pintu pelan.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut, melangkah masuk.
"Aku… aku hanya lelah," jawab Anton pelan.
Dewi tersenyum, seolah mengetahui sesuatu yang tidak ia katakan.
"Tidurlah," ucapnya. "Aku ada di sini."
Sebelum ia kembali tidur, Dewi menyodorkan segelas air. "Minumlah. Ini akan membuatmu lebih baik," katanya.
Tanpa banyak berpikir, Anton menerimanya dan meneguknya perlahan. Dewi tersenyum lebar sebelum beranjak pergi, menutup pintu kamar dengan tenang.
Hari-hari berlalu, dan sesuatu yang ganjil mulai terjadi.
Anton sering merasa pusing tanpa alasan. Kadang, saat mendengar suara Dewi, ia melihatnya dengan cara yang berbeda—seolah ada sesuatu yang membisikkan agar ia selalu berada di dekatnya.
Lambat laun, Anton tak lagi kembali ke kota. Ia memilih menetap di desa dan bekerja di balai desa.
Kedekatannya dengan Dewi semakin erat. Mereka tinggal serumah, menjalin kasih layaknya sepasang kekasih. Semua terasa begitu nyata, begitu membahagiakan—seperti yang selalu diinginkan Dewi selama ini.
Anton yang lemah lembut dan penuh perhatian membuat hubungan mereka terasa sempurna. Mereka menghabiskan waktu bersama tanpa memedulikan desas-desus yang mulai beredar di desa.
Untuk meredam kecurigaan warga, Dewi menyebarkan kabar bahwa Anton telah berpisah dengan Gita dan menikah dengannya secara pribadi. Banyak yang meragukan berita itu, tetapi tak ada bukti yang cukup untuk membantahnya. Satu-satunya cara memastikan kebenarannya adalah menunggu kedatangan Gita ke desa.
Tiga bulan berlalu.
Di layar ponsel Anton, puluhan pesan belum terbaca. Biasanya, ia akan langsung membalas, tapi kali ini… hatinya tak tergerak. Bahkan ketika Gita menelepon, ia hanya menatap layar tanpa niat menjawab.
Hingga akhirnya, Gita datang sendiri ke desa.
"Kamu kenapa, Anton?" suaranya bergetar. "Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"
Anton hanya diam. Kata-kata terasa begitu jauh. Ia ingin menjawab, ingin menjelaskan, tapi hatinya terasa tumpul.
Tak ada rasa sakit. Tak ada iba saat melihat Gita menangis setelah mendengar berita yang telah tersebar di desa.
Bahkan, Anton tak merasa bersalah saat membiarkannya pergi—tanpa permintaan maaf, tanpa penjelasan.
Di sudut ruangan, Priska menyaksikan semuanya dengan tatapan cemas.
Ini bukan Anton.
Ini bukan dia yang sebenarnya.
Di sisinya, Dewi berdiri dengan senyum puas terpampang di wajahnya.
"Dewi, aku takut ini akan berakhir buruk," ucap Priska lirih, mencoba memperingatkan.
Dewi mendengus. "Jangan bodoh. Pelet ini bekerja dengan sempurna. Anton mulai melupakan Gita. Tak lama lagi, dia akan sepenuhnya menjadi milikku."
Priska menggigit bibirnya, ragu. "Dewi, ini salah. Dulu kita berusaha membebaskan Anton dari pelet, dan sekarang kamu malah melakukan hal yang sama?"
Dewi menoleh cepat, tatapannya tajam.
"Pelet yang aku gunakan ini..." senyumnya mengembang, penuh kepuasan. "Abadi."
Priska mengernyit. "Abadi? Maksudmu?"
Dewi menatapnya lurus. "Aku telah mengandung anak Anton."
Priska membeku. Kata-kata Dewi menyesakkan dadanya. Ia menatap sahabatnya, berharap menemukan keraguan—tapi yang ada hanya kepuasan.
Malam itu, dengan hati hancur, Gita meninggalkan desa. Namun, jauh di dalam dirinya, ia tahu—ini belum berakhir.
Dengan sisa harapan yang ada, ia kembali ke rumah dukun yang dulu pernah membantunya.
"Apa yang kau inginkan sekarang?"
Gita mengepalkan tangan, suaranya bergetar menahan amarah. "Aku ingin Anton kembali padaku. Aku ingin dia mengingat anaknya!"
Dukun itu menyipitkan mata, lalu tersenyum samar—bukan senyum ramah, melainkan sesuatu yang lebih dalam, seolah ia telah menyaksikan tragedi seperti ini berkali-kali.
"Anton telah diikat dengan pelet yang lebih kuat daripada yang pernah kuberikan padamu. Kau pikir kau bisa merebutnya kembali dengan sekadar air doa?. Ini bukan sekadar mantra, ini ikatan darah."
Gita menelan ludah. "Lalu apa yang harus kulakukan?"
Dukun itu bergerak, jemarinya yang kurus meraba kain tua yang menutupi sesajen di hadapannya. Ia mengambil segenggam dupa hitam dan meniupnya perlahan ke bara api. Asap putih mengepul, melilit udara seperti ular yang mencari mangsa.
Dukun itu mendekat, sorot matanya tajam menembus keyakinan Gita. "Ada satu cara… tapi ini akan mengubah segalanya. Kau siap menanggung akibatnya?"
Gita terdiam. Bayangan Anton memenuhi benaknya—suami yang tak lagi mengenalnya, ayah yang hilang dari anak mereka. Anton tidak sekadar berpaling; ia direnggut seperti dulu ia didapatkan. Jika Dewi merebutnya dengan kelicikan, maka Gita akan mengambilnya kembali dengan cara yang sama.
"Apa pun itu, aku akan melakukannya."
Dukun itu menatapnya lekat, seolah memastikan niatnya. Lalu, dengan suara yang seperti datang dari kedalaman bumi, ia berbisik:
"Ini adalah Pelet Harum Darah. Sekali kau ikat, ia tak bisa lepas… kecuali oleh kematian."
Dukun itu menatap Gita lekat. "Dan perempuan itu menggunakan pelet yang sama sepertimu. Maka dari itu, satu-satunya cara untuk merebut Anton kembali adalah dengan menumpahkan darahnya hingga titik terakhir."
Gita mengangguk, memahami sepenuhnya apa yang harus ia lakukan.
Malam ritual pun tiba.
Dalam keheningan, asap dupa memenuhi ruangan, menyelimuti tubuh Gita dengan hawa panas yang menyesakkan. Mantra-mantra menggema, menciptakan lingkaran tak kasat mata yang mengikat jiwanya dalam sebuah perjanjian.
Saat ritual berakhir, ia kembali ke desa.
Langit mendung, udara terasa berat. Dari balik kaca mobil, Gita melihat Anton dan Dewi berjalan berdampingan. Mereka tampak begitu mesra—tertawa bersama, saling bertukar pandang penuh kasih.
Sesuatunya hancur dalam diri Gita. Tangannya mengepal, amarah dan dendam mendidih di dadanya. Napasnya memburu—kata-kata tak lagi berguna, air mata tak akan membawa Anton kembali.
Dewi sudah menang. Tapi tidak untuk selamanya.
Dulu, Gita mengira Dewi hanyalah bayangan yang bisa diusir dengan sedikit usaha. Tapi ternyata, perempuan itu lebih dari sekadar bayangan—ia telah mengakar dalam hidup Anton.
Bagi Gita, itu tak bisa dibiarkan.
Dengan tatapan penuh tekad, ia berbisik, "Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya milikku."
Gita menunduk, menatap pisau kecil yang tersembunyi di balik jaketnya. Jemarinya menggenggam gagangnya erat. Ia tak pernah membayangkan akan sejauh ini, tetapi setiap kali mengingat bagaimana Anton melupakan dirinya dan anak mereka—bagaimana Dewi merebutnya dengan cara licik—amarahnya semakin membara.
Ia keluar dari mobil, melangkah cepat dengan tatapan lurus ke depan.
Tepat di hadapannya, Anton dan Dewi berdiri berdampingan. Tatapan Gita dan Dewi bertemu, saling menyalakan kebencian yang tak terselubung. Anton terpaku, tak menyangka kehadiran Gita di sana.
Hingga akhirnya—
Srekk!
Tusukan itu terjadi begitu cepat dan dalam. Pisau tajam menembus perut Dewi. Tanpa ragu, Gita menariknya keluar, lalu menusukkannya kembali, mengoyak perut itu dengan amarah yang tak terbendung.
Teriakan nyaring memecah udara.
Dewi terhuyung, matanya terbelalak. Darah merembes deras, menghangat di jemarinya yang gemetar, berusaha menahan luka. Namun, senyum liciknya masih ada. Sorot matanya tidak menunjukkan ketakutan.
"Kau pikir… ini sudah berakhir?" suaranya melemah.
Gita hanya tersenyum puas.
Anton masih terpaku di tempat. Matanya membelalak, mulutnya terbuka seolah ingin berteriak, tetapi tak ada suara yang keluar. Napasnya memburu. Itu darah—darah yang mengalir dari tubuh Dewi. Tangannya gemetar, tetapi tubuhnya seakan terpaku.
"Tidak… tidak…" bisiknya, tanpa tahu untuk siapa kata-kata itu ditujukan.
Seketika, kepalanya berdenyut hebat. Seperti ada dua arus besar yang bertabrakan dalam dirinya, berebut kendali atas kesadarannya.
Satu sisi, ada bisikan lembut yang selama ini meninabobokannya.
"Aku yang membuatmu kuat, Anton. Aku yang membuatmu istimewa."
Di sisi lain, ada suara hangat yang terasa begitu familiar, mencengkeramnya erat.
"Kembali padaku, Anton… Aku mencintaimu."
Anton mencengkeram kepalanya, tubuhnya bergetar hebat. Napasnya tersengal.
Dua kekuatan.
Dua kendali.
Dua belenggu yang sama-sama menuntut kepatuhan.
Anton terkekang di antara mereka. Dengan gemetar, ia menutup matanya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan kedua suara yang berbisik di pikirannya. Mengabaikan dorongan untuk tunduk.
Lalu perlahan… ia melangkah mundur.
Menjauh dari Gita.
Menjauh dari Dewi.
Gita menatapnya, kebingungan. "Anton?"
Saat Dewi tertatih, darah terus mengalir dari perutnya, tetapi senyumnya tetap terukir. Ia menatap Gita dengan sorot mata penuh kepuasan, bukan ketakutan.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu menang begitu saja?" suaranya bergetar tetapi tetap penuh keyakinan. "Aku sudah mengikatnya dengan darahku, dengan jiwaku… Kau bisa menusukku, tetapi Anton tetap milikku."
Gita menggertakkan giginya, menahan napas yang memburu. "Tidak! Anton bukan milikmu!"
Dewi tertawa pelan. Hampir terdengar seperti bisikan mengerikan di telinga Gita.
"Lalu kenapa dia masih diam? Kenapa dia tak memilihmu?"
"Kau harus menikamku berkali-kali, Gita… Karena selama aku hidup, kau tak akan pernah mendapatkannya kembali."
Mata Gita membelalak marah. Tanpa ragu, ia menarik pisau dan menusukkannya lebih dalam.
Dewi terhuyung. Tetapi sebelum tubuhnya ambruk, tangannya dengan cepat meraih pisau yang masih menancap di perutnya sendiri. Dengan sisa tenaga, ia mengayunkannya ke perut Gita.
Srekk!
Gita tersentak. Matanya membelalak. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dewi mendekat. Bibirnya berbisik lemah di telinga Gita, "Kau tahu bedanya kita? Aku mencintai Anton sampai mati… Tapi kau? Kau hanya takut kehilangan."
Gita ingin membalas, ingin mengatakan sesuatu. Tetapi tubuhnya semakin lemas. Darah hangat mengalir di antara mereka.
Dewi tersenyum sekali lagi sebelum akhirnya terjatuh ke tanah.
Mereka berdua tumbang dalam lingkaran darah. Dua wanita yang berjuang mati-matian demi pria yang kini hanya bisa berdiri kaku, menyaksikan segalanya dengan mata yang akhirnya terbuka.
Saat tubuh Dewi dan Gita jatuh bersamaan, Anton masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Hanya suara napasnya yang berat dan gemetar, disertai degup jantung yang menghantam dadanya.
Darah menggenang, bercampur menjadi satu. Seolah tak lagi ada batas antara keduanya. Wanita yang mencintainya dengan begitu obsesif dan wanita yang berjuang mati-matian untuknya—keduanya kini tak bernyawa.
Anton ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ingin melangkah, tetapi kakinya terasa seberat batu. Ia menatap tubuh Gita yang terkulai di samping Dewi. Wajahnya masih menyiratkan sisa rasa sakit dan ketidakpercayaan.
Tangannya bergetar saat berlutut di samping mereka. "Maaf…" suaranya nyaris tak terdengar.
Tapi sekarang sudah terlambat.
Anton melangkah pergi, meninggalkan tubuh Dewi dan Gita yang tergeletak di genangan darah. Udara malam terasa dingin, tetapi bukan itu yang membuat tubuhnya gemetar.
Ia menunduk sekilas. Di aspal basah, bayangan mereka masih ada. Berdiri di sampingnya. Menatapnya.
Anton menutup mata, mencoba mengusir semuanya. Tetapi suara mereka masih terdengar.
"Aku sudah mengikatmu, Anton..." suara Dewi berbisik.
"Kembali padaku..." suara Gita menyusul, lirih.
Anton menarik napas dalam. Matanya terbuka, menatap jalanan kosong di depannya.
Tidak ada lagi Dewi. Tidak ada lagi Gita.
Hanya dia sendiri.
Terbebas.
Tapi kenapa dadanya terasa kosong? Kenapa setiap langkah terasa begitu berat?
Ia tersenyum kecil, hambar.
Ternyata, kebebasan ini bukan kemenangan.
Melainkan hukuman.
Ia terus berjalan, tetapi bayangan mereka tetap ada.
Bukan di belakangnya. Bukan di aspal.
Tetapi di dalam dirinya.
Selamanya.
***