Sekitar pukul setengah delapan malam, Nita sudah duduk manis di dalam sebuah restoran Korea. Bersama rekan-rekan sekantornya, ia membolak-balik buku menu dengan semangat 45, eh bukan, tapi semangat thank God it’s Friday. Di tanggal-tanggal gajian seperti ini, tempat mana lagi yang lebih pas buat sejenak memerdekakan diri dari tuntutan kerja sepanjang pekan?
“Dari kemaren gue ‘ngidam’ ini, nih,” jarinya menunjuk salah satu menu sambil ngobrol santai dengan teman-teman di kiri dan kanannya, yang tidak kalah excited dengan menu pilihannya masing-masing, “penasaran aja bisa sampai viral gitu.”
Selepas dihidangkannya pesanan, yang namanya sulit sekali buat diingat itu, mereka tidak segera menyantapnya, tentu saja. Di era Instagram ini, kita semua paham ada ritual sebelum bersantap, dan itu bukan melafalkan doa sebelum makan. Diaktifkannya kamera ponsel, kemudian memotret aneka makanan yang terhidang, sementara beberapa temannya ada yang merekam ke dalam video pendek, dan di-upload ke Insta Story. Tidak lupa saling mention akun Instagram.
Di tengah-tengah acara makan malam, yang sedikit banyak diselipi gibahan itu, Putri yang duduk di seberang Nita memperlihatkan postingan Insta Story dari Reza. Salah seorang kliennya tersebut membagikan kegembiraan lantaran baru saja menempati rumah barunya, hasil jerih payah shooting sana-sini sebagai videografer.
“Hai Gaes, akhirnya angkat kaki juga dari pondok mertua indah,” sapa Reza ala youtuber dalam video pendek tersebut, seraya terus nge-shoot sambil berputar memperlihatkan bagian interior rumah. Pada salah satu sudut, istri dan anaknya masuk frame. Sadar kamera, lantas mereka kompak memberi sign “V” menggunakan jari telunjuk dan tengah.
Profesinya membaptis Reza sebagai penyembah buah apel. Bisa dikatakan seluruh gadget miliknya berlogo apel dengan bekas gigitan pada salah satu bagiannya. Mulai dari ponsel, tablet, earphone, hingga smartwatch, pokoknya lengkap. Didukung oleh skil profesionalnya, postingan Insta Story Reza barusan terbilang nampak estetik, meski dibuat secara kasual saja.
Putri mengetuk layar ponselnya, Insta Story beralih ke postingan seorang temannya yang agak cong (bencong). Dia, Anto, belum lama membagikan keseruan liburannya di negara-negara Skandinavia, sesekali juga melakukan live streaming. Setelah memberi like dengan menyentuh ikon heart, Putri mengirim pesan dari text box di sampingnya, “Muke lo girang banget wkwkwk, setelah drama paspor ya cyiiin.”
Malam berlanjut dengan keseruan serta semarak sebagaimana malam pembuka akhir pekan sebelum-sebelumnya di Jaksel.
Di bagian kota lain, Depok, pun tidak kalah semarak meski tak seurban Jakarta. Ali yang masih jomblo memilih untuk bermain mini soccer bareng sebagian rekan di kantor barunya, sebuah rumah sakit swasta. Meski skil sepak bola Ali jelas pas-pasan mengingat tubuhnya yang tambun, dirinya tetap menikmati jalannya permainan. Apalagi sebelum mereka booking lapangan, ia sudah berpesan kepada Adit, “Fotografer jangan lupa di-booking juga, Dit.”
Hasilnya, keesokan hari timeline teman-teman Ali dibanjiri oleh foto dirinya yang seperti bola mengejar-ngejar bola – namun dalam kualitas ciamik bidikan mas fotografer, yang belakangan sering dapat orderan motret orang-orang main mini soccer, seiring meningkatnya popularitas permainan tersebut di antara lahan perkotaan yang makin sempit.
*****
Pada saat nyaris bersamaan dengan momen-momen tersebut, atau tidak begitu lama setelahnya, Aris menonton Insta Story milik Nita sambil rebahan di kursi panjang di salah satu sudut rumahnya. Sambil matanya memandangi makanan yang kelihatannya lezat itu, hatinya bergumam, “Kapan, ya, gue bisa nyicipin makanan kayak gitu bareng anak-istri?”
Kemudian di Story selanjutnya, masih pemandangan di meja makan yang sama, gumamannya menyambung, “Jangankan bareng anak-istri, buat sendiri aja belum tentu ada duitnya!” Aris sebenarnya masih teman sekantor Nita, hanya saja perbedaan level dalam hirarki perusahaan bikin gaji di antara keduanya terbilang senjang.
Di tempat yang lain, Yadi tengah terpana melihat rumah baru milik Reza melalui ponselnya. Meski dirinya sudah lama tidak tinggal di rumah mertua, tapi belum kesampaian juga kesampaian punya rumah sendiri, dan terpaksa masih harus tinggal di rumah kontrakan yang luasnya sangat terbatas.
“Kapan, Pak, kita bisa tinggal di rumah sendiri? Selain di sini sempit, harga sewanya, kan, naik terus, lama-lama makin pusing aku ngatur keuangan kita biar cukup buat sehari-hari,” dia teringat keluh istrinya suatu hari. Yadi mengerti itu, ia pun sudah lama memimpikan punya rumah sendiri. Tapi apa daya, penghasilannya sebagai staf rendahan sebuah pabrik tekstil cuma cukup buat bermimpi.
Dua postingan lainnya pun menemui viewer yang berbeda nasib dan status sosial dari pengguna yang mengunggahnya. Anak-anak kampung di Cilodong, sebuah kelurahan bagian dari Depok, tampak memandangi foto-foto Ali yang kelihatan kepayahan mengejar bola gara-gara cembungan perutnya kelewat offside. Tidak perlu teknologi VAR (Video Assisted Referee) juga sudah jelas banget!
Meski begitu, bocah-bocah tanggung tersebut terpana; oleh rapinya rumput sintetik di lapangan mini soccer. Maklum, selama ini mereka cuma mengejar si kulit bundar di gang kampung yang tentunya sempit, tapi terpaksa disulap menjadi sebuah lapangan sepak bola ala kadarnya.
Apalagi rumput di lapangan mini soccer itu terdiri atas dua warna, hijau tua dan muda, yang membentuk pola belang garis-garis vertikal (atau horizontal tergantung dari sisi sebelah mana kita melihatnya), seperti lapangan di stadion-stadion luar negeri yang sering mereka tonton di YouTube.
Maka malam harinya, di rumah masing-masing, mereka kompakan merengek kepada bapak-ibunya, minta uang buat menyewa lapangan mini soccer. “Besok kalau yang naik ojek online Bapak rame, kamu bisa patungan lapangan mini soccer,” kata Bapaknya Heri berusaha menenangkan rengekan anak semata wayangnya, walau di kepalanya tengah berjalan rumus matematika yang rada mustahil karena diketahui sepeda motornya belum belum ganti oli.
“Oh iya, Pak, Heri belum punya sepatu bolanya,” sambung anaknya baru ingat. “Jadinya sekalian dibeliin juga, ya, Pak.” Kopi kekurangan gula yang tengah diseruput bapaknya pun jadi tambah pahit.
Sepahit-pahitnya kopi tanpa gula, masih lebih pahit kena PHK. Begitulah mungkin gerutu di benak Setyo, bujangan yang tampang pas-pasannya bersaing ketat dengan isi kantongnya sebagai pengangguran.
Warga Pulo Gebang, Jakarta Timur, ini sempat bekerja di sebuah startup digital biro jodoh online di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Tapi lantaran kantornya itu selesai bakar-bakaran duit tanpa mampu menghasilkan duit, PHK adalah keputusan paling ringan buat diambil oleh para founder-nya, meski meninggalkan beban berat di pundak para mantan karyawannya.
Beruntung di antara segala keterbatasannya, Setyo masih punya kepercayaan diri yang terbilang tinggi. Ingin segera melepas status pengangguran, dirinya kepikiran buat menjadi YouTuber. Ketika Insta Story-nya menayangkan Anto yang sedang keliling Finlandia, Denmark, dan Swedia, angan-angan Setyo buka suara, “Konten traveling pasti seru dan bakal ditonton banyak orang, terus kanal YouTube-nya bisa gue monetisasi. Dapet duit, kaya!”
Berapes (lawan dari beruntung), sebelum bisa menghasilkan uang dari konten, dirinya mesti bakar duit dulu juga buat pengadaan perangkat ngonten. Pada daftar yang dibuatnya pada selembar kertas catatan, tertera bahwa ia butuh ponsel dan kamera yang canggih supaya kualitas gambar dari konten buatannya kelihatan kece, serta wireless mic, gimbal, bahkan sampai drone.
Tapi apa daya, angannya disadarkan oleh kondisi kantong yang morat-marit, jauh dari sanggup memenuhi prasyarat tersebut. Ingin dapat uang dari ngonten, tapi buat ngontennya perlu uang. “Lingkaran setan,” pikir Setyo diiringi alunan perutnya yang keroncongan.
*****
Aris, Yadi, Setyo, dan Bapaknya Heri tidak saling kenal. Tidak pula tempat tinggalnya berdekatan. Persamaan di antara mereka saat itu hanyalah nasib, sama-sama sedang mumet, memikirkan bagaimana cara memenuhi keinginan pribadi maupun keluarganya masing-masing.
Sudah berpikir panjang tanpa menemui jawaban, pikiran mereka mulai mengajak berbelok ke jalan pintas. Benak kemudian berbisik, “Kenapa nggak dicoba?”
Terpisah ruang, keempat orang itu bergerak dalam dimensi waktu yang sama, berbarengan. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing, mengunci pintunya dari dalam. Di sana Aris, Yadi, Setyo, dan Bapaknya Heri tidak sendirian, melainkan ditemani sebuah kaleng berisi cairan racun serangga, yang kemudian mereka angkat dan jejalkan ke dalam mulut masing-masing sambil memejamkan mata. Dengan paksaan, pangkal lidah mendorong aliran cairan itu meluncur ke rongga tenggorokan.