Disukai
4
Dilihat
19
Cakravyuha
Aksi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Jerit menyayat.

Sedih nestapa berkecamuk amarah. Api melanda bayangan di pelupuk mata. Tak terkira ganas dan brutal kematian putra kesayangan di tengah amukan Cakravyuha. Jebakan penghancur manusia. Dikeroyok ratusan ribu manusia berjirah besi dan berkekuatan sakti berbagai penjuru, lengkap bersenjata dan jurus-jurus pelumat bersatu di satu target di titik tengah barisan pasukan dalam tujuh lapisan lingkar Cakravyuha.

"Tidaaak!!!"

Jerit membahana hiruk pikuk dan ganasnya peperangan. Mengingat hari kemarin, hari ke-13, tak dapat tertunda, tak dapat diulang. Ini bukan mimpi buruk. Sang Putra gugur. Melawan pasukan musuh seorang diri. Tak terbayangkan seperti apa rupa jasadnya. Sang ayah tak dapat berharap sisanya dapat dikenali sebagai anak manusia.

Namun hari itu, hari ke-14 peperangan berlangsung. Sang Ayah menjelma makhluk dengan kemarahan tak dapat dihentikan. Dua Gadhiva di tangan kanan kirinya melayang kokoh, tegak lurus setinggi tubuhnya tegap berdiri. Agak miring menukik ke atas langit, dua busur keramat bersamaan masing-masing panah disertai ajian pamungkas, diucapkan dengan getir. Kedua matanya terpejam selama merapal mantera. Riuhnya medan perang seolah lumat dalam keheningan batin.

Satu teriakan melepas landas masing-masing panah keramat dari Gandhiva kanan dan kiri. Melesat gesit secepat kilat ke langit-langit. Melihat itu, tawa pasukan musuh semula tersungging di ujung bibir, namun lenyap seketika, manakala dua kilatan panah di langit berubah dalam sekejap mata menjadi ratusan hujan panah baja berselimut api merah dan mengejar ke arah pasukan musuh.

Teriak ketakutan tak mampu redam, hujan panah baja api memiliki mata untuk memburu setiap musuh yang berjirah dan bernafas, tak terhentikan sampai panah-panah itu menembus tubuh mereka hingga berjatuhan.

"Kalian semua pengecut!!! Tak ada satupun yang pantas disebut ksatria dari diri kalian!!!"

"Aku bersumpah akan memenggal kepala Jayadratha sebelum matahari terbenam!!!"

Sumpah serapah menggema di awal peperangan hari itu, lebih mengerikan dari ketakutan terbayangkan semua musuh yang gagah berani, hari itu lumer ketika menyaksikan panah-panah seukuran tombak baja menembus tubuh-tubuh bergelimpangan di tanah.

"Aku pun akan menghabisi kalian pembunuh putraku!" gemeretak gigi Sang Ksatria, kembali mengingat betapa ia terpukul atas kabar putranya yang gugur.

Deru riuh, beberapa kali dua panah sakti bertolak dari masing-masing Gandhiva di tangan dan kiri milik Tuan Ksatria jelmaan Sang Ayah yang tengah dikendalikan amarah. Setiap panah berikutnya lepas ke angkasa, satu menjadi ratusan, ratusan menjadi ribuan, kembali menghujani arus prajurit musuh. Ditambah lagi, lantang suara terompet sakti mandraguna, sekali ditiup Arjuna, hancur pula golongan pasukan terompet pihak musuh. Mereka berpenunggang gajah-gajah raksasa. Jerit kesakitan akibat telinga-telinga meledak seketika. Berjatuhan ke tanah. Gajah-gajah tunggangan ambruk. Tubuh manusia dan gajah tumpang tindih.

Dalam sekejap dan hembusan nafas, satu lapisan formasi Cakravyuha dibuatnya koyak dan kalang kabut. Namun musuh bukan tanpa perhitungan. Sesegera mungkin mereka bertindak dan menutup celah Cakravyuha yang rusak. Barisan prajurit dengan cepat mengisi barisan formasi yang rusak.

Aksi Arjuna sejenak jeda. Hitungan tujuh kali panah Pasopati melesat dari dua Gandhiva miliknya. Ribuan prajurit musuh bergelimpangan.

"Arjunaaa!!!"

Suara melengking memekakkan telinga. Menyebut satu nama. Tak redam riuhnya peperangan. Matahari belum lama menyingsing dari ufuk timur. Namun Sang Ayah yang kehilangan putranya, rupanya seorang ksatria pemanah dengan legenda yang dikhawatirkan akan menuntut pembalasan atas kematian putranya. Sang Ayah pemilik nama Arjuna, membuat gentar pasukan musuh. Pagi itu, panahnya sudah membunuh setidaknya 10.000 prajurit dari formasi Cakravyuha.

"Hari ini akan menjadi siang terpanjang untuk kalian!!!" teriak Arjuna gegap gempita.

"Arjunaaa!!!" sekali lagi suara lantang membahana dari arah pusat Cakravyuha, di balik barisan ribuan prajurit bertombak dan berkuda, semuanya bergerak, tanpa disadari membentuk formasi besar dan begitu luasnya. Sampai-sampai tak terlihat oleh indra kesadaran siapapun, Sang Ksatria sudah berada di kepungan barisan paling luar formasi mematikan itu.

"Ah, Cakravyuha membentuk satu lapisan lagi. Semula tujuh lapisan, sekarang bertambah menjadi delapan lapisan," pikir Arjuna, tersadar dari strategi musuh. Kapan saja tak terduga akan terjadi seperti itu. Tetapi itu bukan apa-apa dibanding kemarahannya dan bertekad bulat untuk memenuhi sumpahnya hari itu.

"Cakravyuha!!!" suara gelegar di sana berusaha menaklukkan Arjuna, "Putramu mati di dalam formasi yang sama!!!" lantang menggema suara itu lagi, namun tak diketahui siapa yang berucap. Dapat dipastikan orang yang mampu bersuara menggelegar seperti halilintar, pastilah berilmu dan memiliki digdaya luar biasa. Suara itu berasal dari pusat Cakravyuha tertutup rapat barisan terbentuk dari ribuan prajurit musuh, semuanya bergerak maju seiring terompet berkumandang. Formasi spiral dalam jumlah ratusan ribu prajurit bergerak serentak layaknya kepiting raksasa menuju satu sasaran. Yakni, posisi Arjuna berdiri sendirian.

Formasi Cakravyuha sempat terkoyak, namun sekejap kembali pulih dan rapat. Barisan kosong digantikan dengan prajurit lain.

Arjuna berdehem dengan suara bariton yang berat, "Hanya itu kemampuan Cakravyuha!!!"

Bukan kepalang murka, bagaimana bisa putranya yang masih muda belia, dikeroyok secara brutal di dalam pusaran Cakravyuha. Itu hari kemarin. Tanpa sepengetahuan dirinya. Mereka yang curang dan licik. Tak terampuni.

"Kerahkan semua Cakravyuha milik kalian!!!"

"Aku lebih berbahaya!!!"

Lantang teriakan Arjuna, bersiaga penuh, kembali mengangkat dua Gandhiva di kanan dan kiri. Dua busur pusaka bermata dan berjiwa, mengikuti seruan hati dan pikiran Arjuna. Sebentar ia merapal ajian kuno dan singkat saja, dua Gandhiva melayang tegak lurus menghadap musuh. Panah Pasopati bersiap menerjang dengan kemampuan batiniah dan spiritual terdalam.

Arjuna dikepung barisan pertama Cakravyuha. Namun tak gentar sedikitpun. Terngiang suara putranya yang gugur, merasuki kepedihan dalam dirinya.

Arjuna menghela nafas. Jurus matanya meluncur sepanjang barisan musuh terbentang dari kanan hingga kiri membentuk arus prajurit di depan sana, semakin mengikis jarak antara Arjuna dan pasukan musuh.

Kali ini target panah dikerahkan dua arah. Tujuannya sekali lagi merusak lapisan Cakravyuha.

"Heaaaah!!!"

Satu panah menerjang pasukan yang mengepung dari arah belakang Arjuna. Satu panah lagi meluncur ke arah datangnya Cakravyuha di depan.

Ujung panah lebih tajam dari mata pedang di muka bumi. Ukurannya bertambah besar seiring melesat di udara, berkali-kali lipat lebih besar dari tombak bermata api dan berparuh elang.

Masing-masing panah, sekejap mata berlipat ganda menjadi ratusan panah, menerobos barisan terbentuk dari tubuh-tubuh prajurit pada setiap lapisan Cakravyuha. Tubuh-tubuh terpental hingga panah-panah lainnya menerobos lapisan berikutnya sampai menembus lapisan paling dalam.

Hingga satu panah api, tepat menghantam pusat Cakravyuha. Menohok seekor gajah di tengah laju formasi bergerak cepat. Akibatnya, gajah terhempas mundur, ambruk dengan bobot begitu berat, menubruk pasukan gajah di belakangnya hingga pusat Cakravyuha hancur berantakan. Hancur pula lapisan lainnya.

Satu panah berikutnya menyusul tanpa henti, seakan tak memberikan kesempatan siapapun yang bernafas di dalam formasi Cakravyuha. Sebilah amukan panah, meluncur secepat kilat dan tepat menohok leher seseorang paling berpengaruh, seseorang berjirah emas di dalam kereta perang. Terpental ke atas, lepas kepala dari tubuhnya. Sementara tubuh manusia itu masih menggenggam senjata pedang di tangannya.

"Jayadratha!!!" Jerit mengamuk bercampur geram. Arjuna melepas puncak kemarahan. Melihat panahnya secepat itu berhasil menunaikan sumpahnya untuk memenggal kepala Jayadratha.

Penampakan mengerikan. Kepala Jayadratha terpelanting ke atas, disertai jeritan keras yang belum usai. Semua pasukannya terperangah hebat menyaksikan kematian mengerikan di depan mata. Baru tersadar, sebilah panah Arjuna tepat memotong kepala yang rupanya adalah kepala sang komandan.

Sebongkah kepala melayang-layang di langit kelam. Setiap kali kepala Jayadratha meluncur ke bawah, dengan cepat panah lain menghempaskannya kembali ke atas, sehingga tak pernah sampai mendarat di tanah. Selagi kepala itu terlempar ke atas, tubuh Arjuna mengorbit dan meliuk, mengendalikan pusaran badai panah segala penjuru, mengikuti amukan kekuatan spiritual dalam dirinya.

Pusaran Cakravyuha porak poranda. Tak mampu pulih seperti sedia kala. Raungan terompet Arjuna beberapa kali menggelegar, para pengendali gajah sampai pecah telinga sehingga tak mampu lagi mengendalikan laju tunggangannya, bertubrukan dengan gajah lainnya di dalam formasi. Komando Cakravyuha terletak pada para peniup terompet. Sehingga hancur pula barisan kavaleri dan infantri. Bersamaan dengan itu, hujan panah seukuran tombak-tombak api baja menembus tubuh-tubuh perkasa para prajurit elit, bersama kuda dan gajah tunggangan.

Jerit ampun, kesakitan, pasukan musuh kehilangan komando, lantas berlarian meninggalkan formasi Cakravyuha. Namun panah-panah serupa elang api, terus mengejar, hingga mereka melarikan diri bermil-mil jauhnya dari medan pertempuran, namun tak sanggup melampaui kecepatan laju panah tiada henti. Ribuan prajurit terguling berjatuhan, panah-panah menembus tubuh-tubuh mereka hingga menghantam tanah.

"Ini yang paling aku hindari, tapi tak bisa aku hindari lagi. Kalian mengubahku menjadi mesin pembunuh!" geram Arjuna. Sedikit jeda, nafas memburu. Sejauh mata memandang medan pertempuran. Panah-panah di kejauhan, belum usai menghujani pasukan yang lari tunggang langgang.

Arjuna, ahli siasat strategi pertempuran. Tak luput hitungan hanya dengan memperhatikan dari kejauhan saja, dapat diperkirakan seberapa besar kapasitas pasukan musuh. Ia tahu persis kelemahan Cakravyuha yang dianggap mematikan. Rahasia kelemahan formasi itu, ia pun tahu. Sebesar apapun Cakravyuha, tak ada artinya selama itu strategi darat. Namun sayangnya, ia tak sempat mengajarkan kepada putranya mengenai siasat keluar dari Cakravyuha.

Satu Cakravyuha, sedikitnya menggunakan pasukan berjumlah dua sampai tiga akshauhini. Satu akshauhini terdiri dari 21.870 gajah, 21.870 kereta, 65.610 kavaleri, dan 109.350 infanteri. Namun semuanya ambruk di bawah badai panah amukan Arjuna.

Lewat tengah hari. Formasi Cakravyuha seluruhnya lenyap. Medan perang menyisakan jejak pertempuran ratusan ribu manusia bergelimpangan. Bahkan Cakravyuha kedua, habis dihujani panah Arjuna. Selagi Arjuna menghela nafas, terbayang kembali senyum putranya. Setiap kali ia pulang ke rumah, disambut putranya, namun kini putra kesayangan pemilik senyuman itu sudah tidak ada lagi.

"Abhimanyu ... ini pembalasan atas kematianmu ...," ujar Arjuna terenyuh, menyebut nama putranya, lirih parau suaranya. Kedua bola mata tergenang air mata duka. Namun kembali menjadi emosi memuncak. Hingar bingar terompet pertanda gelombang musuh berdatangan.

Kesadaran penuh, kembali pula amarah Arjuna. Memandang luasnya medan pertempuran di depan mata, tampak berduyun-duyun derap lari pasukan musuh memenuhi daratan pertempuran. Kali ini kapasitasnya tiga kali lebih besar daripada pasukan sebelumnya. Namun tak cukup membentuk formasi Cakravyuha, lantaran kehabisan pasukan gajah komando. Apalagi komandan pasukan musuh sudah dikalahkan. Entah siapa komandan pengganti di balik arus serangan kali ini yang mengendalikan sisanya. Hanya kavaleri dan infantri. Namun jumlah itu masih tak terkira banyaknya hingga kembali memenuhi medan perang, sangat menguras pandangan mata. Terompet membahana berkali-kali. Kedengarannya itu jenis terompet pasukan sekutu dari pihak musuh.

"Ha ha ha!!!"

Derai tawa Arjuna larut dalam amukan pertempuran. Sementara matahari berlalu dari tengah langit. Pertempuran belum usai. Semakin memanas pula peperangan hari itu. Senyuman Arjuna tersungging. Sebilah tombak baja, jelmaan panah raksasa, tegak berdiri di genggaman Arjuna. Ujung tombaknya menohok kepala Jayadratha.

"Kau lihat itu, Jayadratha? Pasukanmu sama saja bunuh diri, kematian mereka sia-sia!" ujar Arjuna sedikit melirik ke samping, menghadap wajah mati Jayadratha, "Seandainya kemarin kau bersikap murah hati dan melepas putraku, bertarung dengan adil, maka tidak akan terjadi seperti ini!"

"Aku yakin kau masih melihat dari sisi alam kematian, pasukanmu mati di tanganku!"

Tawa getir Arjuna, hari itu menjelma malaikat pencabut nyawa secara massal. Ia tak terhentikan. Tak terkalahkan. Aura kesaktian tubuh Arjuna meluap. Bertolak kedua kakinya, melaju cepat ke arah pasukan musuh. Teriakan membahana bersatu dengan gemuruh carut marut peperangan.

"Heaaaah!!!"

Sekali teriakan, tubuh gagah gesit nan lincah, Arjuna berlari dengan kekuatan penuh, di satu titik tubuhnya bertolak terpelanting ke atas, berputar-putar 360 derajat, sembari menampis serangan tombak meluncur ke arahnya tak terhitung banyak. Namun tubuh Arjuna berlapis kesaktian sehingga terpental semua tombak-tombak itu.

Giliran Arjuna melepas landas panah-panah keramatnya, sembari ia melompat tinggi-tinggi ke udara, lalu mengorbit dan meliuk, maka terbentuk badai ribuan panah, meluncur tajam ke arah pasukan musuh segala penjuru.

Dari atas, Arjuna melihat arus musuh berbenturan, pusaran badai panah menghujam semuanya. Pasukan kavaleri terhempas dari kuda-kuda tunggangan. Bertabrakan dengan pasukan infateri yang berjatuhan.

Arjuna melompat, memantulkan kaki setiap menginjak kuda melintas di dekatnya, sehingga ia melayang di udara. Dilakukan itu berkali-kali. Melompat dari satu kuda ke kuda yang lain.

Di belakang arus pasukan infantri musuh, puluhan ribu pemanah membalas serangan Arjuna. Tubuh sang ksatria meliuk-liuk gesit, sedikitpun tak tersentuh ribuan panah tertuju ke arahnya. Alih-alih kena, malah tubuh Arjuna licin bagai pusaran angin tembus pandang. Panah-panah musuh seolah lidi berbalik terpental dan mengenai tubuh mereka sendiri. Mengembalikan serangan musuh, merupakan satu trik akhir Arjuna meraup kemenangan.

Gelombang serangan musuh berakhir kewalahan. Wujud Arjuna tak lagi dikenali sebagai manusia. Dia serupa badai kemarahan. Hingga akhirnya suara-suara riuh menyempit. Seiring tubuh-tubuh ambruk bergelimpangan, tumpang tindih.

Arjuna berpijak ke tanah penuh mayat bertumpuk di sana sini. Daratan merah di setiap langkah kakinya. Sisa sedikit saja pasukan musuh dalam kondisi luka parah, merangkak serta menyeret-nyeret tubuh sendiri, berusaha menjauhi Arjuna.

Angin berdesir. Awan kemerahan di ufuk barat. Pertanda sore dan sebentar lagi senja tiba. Gemuruh terompet samar-samar menjauhi medan perang. Akhir peperangan hari ke-14 ditandai dengan runtuhnya Cakravyuha dan menelan korban tujuh Akshauhini di pihak prajurit musuh.

Arjuna menghela nafas. Melepas dendam kesumatnya pecah dari kedalaman jiwa. Matanya terpejam erat bersama senja mulai gelap.

* * *

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
deskripsi cakravyuha (cakrabayu?) yang lebih jelas lagi. 👌
Balas
Bharatayudha kah? Atau terinspirasi? 😁
Balas
Rekomendasi dari Aksi
Rekomendasi