Dulu pinginnya cuma fokus nulis aja biar bukunya doang yang terkenal. Biar soal jualan urusan penerbit. Aku mah nunggu royalti masuk aja, deh. Sesimple itu mikirnya anak baru 😆

Tapi denger dari yang udah pada pengalaman bahkan sampe ada yg berhasil nerbitin buku cetak, ternyata nulis aja enggak cukup sekalipun tulisannya udah bagus. Buku yg udah terbit juga bukan jaminan bakal laris. Banyak penerbit mayor bukan cuma lihat kualitas tulisan tapi lihat juga pengaruh penulisnya terhadap pasar. Punya penggemar ga nih kira-kira?

Jadi bisa dibilang, penulis memang harus bisa jual karyanya sendiri sekaligus jual personanya juga 🤧 Manfaatin aja platform nulis online yang ada buat nyebar tulisan kita. Harus sabar extra ini sih buat nikmatin proses ngebangunnya. Engga bisa cepet. Sekali lagi susah kalo ga populer buku laris.

Kalo beneran mau serius di bidang ini ya selain terus bikin karya bermanfaat, jangan lupa bangun popularitasnya juga, sebelum berharap diterbitin penerbit besar. Nanti kalo udah punya penggemar buku yang loyal, banyak yg bakal bersedia bayar kok, malah mau nulis apa juga, laku 😄. Ga harus diterbitin penerbit mayor juga okeh aja.

Dan kondisi ini berlaku buat kondisi siapapun, mau buat penulis buku online atau penulis buku cetak tetap perlu bangun popularitas 😪

Pahit sih kenyataannya, mau ngeles ngarep pengecualian buat diri sendiri tapi dipikir-pikir emang masukannya ada benernya juga 😄 Dan banyak ternyata pekerjaan penulis itu. Sebagai penulis berflower seakan aku tidak boleh halu bahwa segalanya sesederhana yang dikira 🤧

Bentar-bentar, aku harus merenung. Biarkan aku cosplay jadi kodok zuma dulu 🐸
11 Komentar
Rekwik
26
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (11)
trims ya, dengan sharing bisa menyemangati hati.... ;), @yulianjuli
Balas
hore... namaku disebut ;) di amin saja ;), @rudiechakil
Balas
harus lawan diri sendiri dulu baru layani pasar ;), @ybudiaman66
Balas
Ah, iya. Sisi unik. Masing-masing kita punya itu, kelihatan dari genre yang kita bawa dan style narasi salah satunya. Itu bisa jadi merek penulis 😄.
Makasih ikut meramaikan ruang komentar 😊 @rudiechakil
Balas
Dulu saya berpikir, seorang Michael Jordan hanya bisa memasukkan bola ke dalam keranjang, seorang Kurt Cobain cuma bisa ngarang lagu sambil genjrang-genreng, dan seorang Mike Tyson yang hanya memiliki fisik kuat dan jotosan setara dengan truk tronton. Tapi ternyata tidak. Mereka benar-benar memiliki karakter yang unik, pemikiran yang anti-mainstream, dan branding image yang luar biasa. Begitu pula dengan seorang Andrea Hirata, atau @Hans Wysiwyng, JK Rowling, atau @Yulian Juli, mungkin
Balas
Curhatan yang bermanfaat 😊 thank you @acehdigest
Balas
Benar @Hans Wysiwyg. Kalau saya rencananya akan melakukan strategi ganda. Satu, saya akan menulis novel berdasarkan "nafsu" saya—masa bodo mau viral atau nggak. Dua, menulis novel berdasarkan "selera pasar"—buat cari duit. Yang kedua harus pakai nama pena lain supaya tidak merusak reputasi jangka panjang. Sayangnya yang kedua susahnya minta ampun, gara gara ego kegedean. 😀
Balas
kata ibu saya udah dijalani aja nulisnya :), tapi seperti bang Rudi Chakil bilang--banyak penulis pemula yang cuma sibuk pada pencapaian karya (bukan pencapaian produktivitas atau pencapaian karya adiluhung) tapi justru pada pencapaian supaya bisa viral, bisa terkenal, hahaha. Padahal, sesuatu yang lebih penting ketimbang sebuah pencapaian adalah personal branding image. Bukan semata mutu atas profesinya saja, melainkan mutu sebagai manusia utuh. Bukankah karya besar pasti gak akan lepas dari sosok kreatornya?. meskipun kadang-kadang niat buat nulis ada yang untuk sekedar senang-senang--saya kepikiran waktu aktif di kwikku per November 2024 kemarin kepingin nulis sehari sekali hahaha--anggap aja ada yang bisa jadi lumbung tulisan (nanti baru deh dijadiin buku) tapi belakangan juga nyadar karya ngak boleh sembarangan--nanti yang baca malah bosan hahaha, trims ya sudah bersedia jadi curhatan @yulianjuli@ybudiaman66@rudiechakil
Balas
bener-bener penulis yang promotor :), @ybudiaman66
Balas
Sip 👍
Jawaban yang menarik sekali.
Sekaligus mengsedih juga yaa kalo itu benar🥲
Dulu tantangannya buat terbit terbatas, taunya ya cuma kirim ke penerbit2 besar lewat seleksi yang berat berdasarkan kualitas. Sekarang udah ada pf seperti kwikku yang banyak tersedia, sangat membantu memang, tapi bukan berarti tantangannya gak ada, cuma beda aja. Adalah apa yang mereka sebut "viral" dan "follower" 😄
Terima kasih sudah berbagi
@ybudiaman66
Balas
Yah, begitulah. Penulis sekarang harus bekerja ganda: sebagai penulis dan promotor. Dalam dunia musik, pemusik bisa fokus membuat karya, urusan promosi ditangani manajernya. Penulis bisa menggaji seorang manajer untuk marketing karyanya. Masalahnya, apakah penghasilan penulis (terutama pemula) cukup untuk menggaji seorang manajer? Konon ada kisah (entah benar atau tidak). Sebuah penerbit "meminang" sebuah novel remaja yang karyanya dibaca jutaan orang di platform W. Tapi, mayoritas pembacanya anak-anak SMP/SMA yang notabene hanya mau baca yang gratis. Ketika novel itu jadi buku cetak, jumlah pembeli tidak sesuai ekspetasi penerbit (mungkin anak-anak SMP/SMA itu umumnya nggak punya duit lebih buat beli buku). Akhirnya, novel itu terus turun harga sampai diobral). Orang dewasa seperti saya, jika suka dengan sebuah novel, meski sudah membelinya di Google Books, tetap membeli novel cetaknya. Ada rasa senang memajang novel novel hebat di rak buku. Tetaplah optimis, hasilkan kary
Balas