Disukai
1
Dilihat
10
Tamu Tahunan
Puisi

bulan suci bertamu di pelupuk laku

mendadak orang mengaku beragama

ada tunduk di kemelut dada

kebaikan digencar dalam remang-remang pengaduan

keliru tampung maaf dalam gulungan halus

tiada dosa—semua diampuni

asal sujud dalam tunduk

ucap-ucap shalih

titip salam pada orang tua berajal

dalam pundak-pundak kelakar kematian

di bulan ini … ada keramaian yang pernah rumpang

anak-anak ngabuburit di persimpang jalan, berbuka lauk kelakar, ucap salam pada instagram, ditutup menggunakan doa-doa pergadangan

mereka usap kantuk, langkah tersuruk-suruk menuju bangku abdi di pusat perkotaan

sementara orang tua gelisah … meja belum ditumbuhi bunga-bunga penyambutan

kantong kewajiban kosong, 

rupiah berhambur-hamburan di atas langit, tetapi sulit diapit

sebagian; begitu mudah membakar uang, sebanyak kaum susah menyembunyikan piutang

ah … ini bulan suci, mari memantaskan diri dengan tutup buai nafsu duniawi

tetapi bagaimana jikalau nafsu itu begitu energik? 

membungkam mulut, meracuni kepala-kepala? 

gagah dengan lingkar perhiasan

bangga berbungkus kain mahal

sadarlah! 

cucumu barangkali dipeluk keterpaksaan supaya senyum bersimpul anggun

prestise menjadi lelucon ketika kembang api meletus di udara

ada yang lenyap, beban-beban tuntas, bebas kembali menekurkan diri di sudut kamar. 

Magelang, 24 Maret 2024. 

Suka
Favorit
Bagikan