bulan suci bertamu di pelupuk laku
mendadak orang mengaku beragama
ada tunduk di kemelut dada
kebaikan digencar dalam remang-remang pengaduan
keliru tampung maaf dalam gulungan halus
tiada dosa—semua diampuni
asal sujud dalam tunduk
ucap-ucap shalih
titip salam pada orang tua berajal
dalam pundak-pundak kelakar kematian
di bulan ini … ada keramaian yang pernah rumpang
anak-anak ngabuburit di persimpang jalan, berbuka lauk kelakar, ucap salam pada instagram, ditutup menggunakan doa-doa pergadangan
mereka usap kantuk, langkah tersuruk-suruk menuju bangku abdi di pusat perkotaan
sementara orang tua gelisah … meja belum ditumbuhi bunga-bunga penyambutan
kantong kewajiban kosong,
rupiah berhambur-hamburan di atas langit, tetapi sulit diapit
sebagian; begitu mudah membakar uang, sebanyak kaum susah menyembunyikan piutang
ah … ini bulan suci, mari memantaskan diri dengan tutup buai nafsu duniawi
tetapi bagaimana jikalau nafsu itu begitu energik?
membungkam mulut, meracuni kepala-kepala?
gagah dengan lingkar perhiasan
bangga berbungkus kain mahal
sadarlah!
cucumu barangkali dipeluk keterpaksaan supaya senyum bersimpul anggun
prestise menjadi lelucon ketika kembang api meletus di udara
ada yang lenyap, beban-beban tuntas, bebas kembali menekurkan diri di sudut kamar.
Magelang, 24 Maret 2024.