Hidup 1
Ketika napasmu berembus di selisih petang yang terlupakan. Menjelma lentera padam di bukit-bukit. Mengalir lembut mengikuti arus yang dinafsukan. Terarah, tidak dipaksakan. Tatkala engkau dipeluk letih, bercampur gigil di musim dingin, pikiranmu berdebam di ambang nirwana, mampu melesatkan panah untuk menembus pesta di altar-altar kesucian.
Hidup 2
Paru-parumu mual, darah bercampur nanah termuntahkan. Infus lancang menusuk nadi. Bibir keringmu bergurau merayu Ridwan. Gumintang malam hari gugur, rembulan luruh, mentari tersedak di pembatas waktu, ia terjungkir, limbung, hendak menggerhanakan justru terpontang-panting, jantungmu bergetar, dua lubang disumbat Munkar. Alam di korneamu lebur. Oksigen hambur. Dan kau berdiri di tengah padang gurun, mengemis dedaunan lebat di hutan-hutan tropis. Langkahmu mengejar sesuatu yang sukar terkejar, dua penopang jejakmu tak terkilir, namun dilintir.
Hidup 3.
Lehermu berpantomim, lentur namun tegak kaku. Kau menoleh ke kanan menatap mega, hujan yang berkelebat. Kemudian menoleh mengarah kea lam kiri, pelangi menangis, bocah tak lagi berdzikir memanggil namanya, ada hal yang kau angankan di lorong masa depan, meniapkan senjata untuk memetik tawa remaja, menghanyutkan harapan di sungai-sungai penuh dendam, tentang kesetiaan, ketundukan, beserta cinta dalam tempurung akal yang diabadikan zaman.
Hidup 4.
Kelopak matamu mekar ketika mentari terperanjat dari tidurnya esok tadi. Kau duduk di kursi roda, terbatuk-batuk. Bersandar pada tubuh senja yang tidak merestui keberadaanmu. Kenangan di masa lampau menjelma bayangan terang di hadapan layar, masa depan melambaikan tangan, daun-daun berguguran berfoya dalam upacara sakral yang akan segera disaksikan batu nisan. Di hadapanmu kini, seorang bocah jatuh bangun, menghiburmu dengan keluguan, mencumbumu dengan ulah.
Hidup 5.
Kau masih berembus, meski kain kafan telah melembar. Ingatanmu timbul tenggelam, terkadang dalam hitungan detik dihancurkan gulungan ombak samudera, dilahab hiu-hiu yang mengaku tak mempunyai dosa. Hitungan menit langkahmu terseok, terjebak dalam lingkaran yang tidak berdiameter, terus berputar dengan sayap yang diambangkan di dalam lukisan-lukisan maya tentang hidup, dua lubang disumpal oksigen yang dikemas seunik mungkin oleh pemain kehidupan dalam tatanan atas. Engkau terkapar meskipun ruh menanamkan harap mampu menyuburkan kenangan. Seribu usaha memori dijadikan tongkat, tetap saja takdir akan membuatmu terjungkal, meskipun engkau tidak mengharapkan yang pantas dengan harap. Waktu bertekuk lutut. Hidup kalut. Nyawa setengah detik dapat meregang.
Hidup 6.
Tenang. 2017 hingga kau menjanurkan nyawa lain di bawah langit, napasmu berembus, dua lubang menghirup udara segar. Kau melihat embun di halaman rumahmu membutir bening, jatuh dengan manja di atas kelopak-kelopak mawar, membuat melati dan dahlia cemburu, hingga saling bertempur mencari simpati dengan wewangiannya kepada dunia.
M.A.T.I.
Ketika dua lubang tak lagi disumpal selang. Pikiranmu bukan lagi melayang. Paru-parumu tidak mual. Jantungmu tidak lupa cara memompa darah, namun menerima surat pengsiun dari Tuhan agar istirahat sejenak mengarungi kehidupan fanamu itu. Terakhir engkau terbujur, kamboja bernyanyi mengiringi upacara pemakamanmu. Anggap saja batu nisan adalah penghargaan atas amal yang telah kau perbuat di muka bumi. Tamat. Kisah ini berakhir.
Magelang. 21 Mei 2017